Usaha Tani Konservasi

Posted: November 3, 2011 in Kewirausahaan
  • Budidaya Lorong

Budidaya lorong adalah sistem pertanaman kombinasi antara tanaman semusim dengan tanaman tahunan, dengan penataan tanaman tahunan yang ditanam dalam larikan atau barisan secara teratur sehingga membentuk lorong-lorong atau ruang antara barisan tanaman tahunan yang dimanfaatkan untuk tanaman semusim. Budidaya lorong didasarkan pada prinsip ekonomis, penganekaragaman, konservasi dan berkelanjutan.

  • Pola Budidaya Lorong
    • Pada lahan miring penataan tanaman mengikuti garis kontur.
    • Jarak antar baris tanaman tahunan pembentuk lorong disesuaikan dengan kemiringan lahan. Semakin besar kemiringan lahan semakin pendek jarak antar baris tanaman tahunan pembentuk lorong.
  • Penataan Tanaman Tahunan Pembentuk Lorong (Hedge Row)
    • Pada sistem budidaya lorong yang sederhana sebagai tanaman pembentuk lorong atau barisan tanaman pencegah erosi dapat digunakan satu jenis tanaman seperti gamal atau lamtoro. Untuk pengembangannya dapat ditanam tanaman lainnya sesuai minat atau kebutuhan dan kondisi lahan yang dimiliki petani seperti jambu mente, kakao, mangga.
    • Buat dua baris tanaman gamal atau lamtoro pada setiap pembentuk lorong atau kontur dengan jarak antar baris 50 cm.
    • Tanam gamal atau lamtoro dengan cara menaburkannya ke dalam larikan kemudian ditutup dengan tanah.
    • Jarak antar barisan tanaman pembentuk lorong adalah 5 – 20 m sesuai kemiringan lahan.
    • Tanaman pembentuk lorong dibiarkan tumbuh sampai 0,5 m. Jika telah melebihi 0,5 m lakukan pemangkasan.
  • Penataan Tanaman Semusim
    • Lakukan penanaman tanaman semusim berupa tanaman pangan di dalam lorong
    • Tata tanaman semusim secara jalur (strip cropping) atau lorong.
    • Lakukan penanaman tanaman semusim pada awal musim hujan dengan ciri-ciri tanah telah basah sedalam 15-20 cm.
    • Tanam jagung pada lorong jagung searah kontur dengan jarak 100 cm x 40 cm
    • Berikan juga furadan 3G pada lubang tanam dengan dosis 5 kg/ha.
    • Pada saat jagung berumur 2 minggu berikan
  • pupuk Urea, dosis 100 kg/ha, secara ditugal pada jarak 7 cm di kiri dan kanan tanaman sedalam 10 cm.
    • Tanam padi pada lorong padi searah kontur dengan jarak 20 cm x 20 cm.
    • Pada saat penanaman padi lakukan juga pemupukan SP-36 dengan dosis 100 kg/ha
  • dengan cara menaburkannya dalam larikan kemudian ditutup tanah.
    • Berikan pupuk urea pada tanaman padi sebanyak 150 kg/ha, diberikan 3 kali yaitu 1/3
  • bagian pada saat tanam secara larikan, 1/3 bagian pada saat tanaman berumur 4 minggu
  • dan 1/3 bagian pada saat tanaman berumur 7 minggu dengan cara ditebar.
    • Berikan Furadan 3 G sebanyak 17 kg/ha pada saat tanam, dimasukkan di lubang tanam.
    • Lakukan penanaman ubi kayu pada lorong ubikayu dengan jarak 100 cm X 50 cm.
    • Lakukan penanaman kacang tanah/kacang hijau pada lorong kacang tanah/kacang hijau dengan jarak 40 cm X 20 cm.
  • Komponen Teknologi Tanaman Semusim
    • Komponen teknologi dari masing-msing
      • tanaman semusim sebagai berikut:
      • Komoditas : Jagung
      • Varietas : Lamuru, Kalingga
      • Kebutuhan Benih : 25 kg/ha
      • Jarak Tanam, Cara Tanam : 100 cm x 40 cm, ditugal
      • Pemupukan (Jenis, dosis, cara, waktu) : Urea 100 kg/ha, ditugal, 7 cm dari rumpun tan.,
      • 14 hst.
      • Komoditas : Padi Gogo
      • Varietas : Cirata, Widas
      • Kebutuhan Benih : 60 kg/ha
      • Jarak Tanam, Cara Tanam : 20 x 20 cm, ditugal
      • Pemupukan (Jenis, dosis, cara, waktu) : Urea 150 kg/ha, 1/3 saat
      • tanam, larikan,1/3 bag pada umur 4 minggu, 1/3 bag pada umur 7 mg, ditebar.
      • Komoditas : Kacang tanah
      • Varietas : Lokal Kupang Merah
      • Kebutuhan Benih : 40 kg/ha
      • Jarak Tanam, Cara Tanam : 40 x 20 cm, ditugal
      • Pemupukan : Tidak dipupuk
      • Komoditas : Ubi Kayu
      • Varietas : Lokal
      • Kebutuhan stek : 15.000 stek/ha
      • Jarak Tanam, Cara Tanam
      • : 100 x 50 cm, ditancapkan
      • Pemupukan : Tidak dipupuk
  • Konstruksi Menghadapi Erosi Tanah

Daerah-daerah miring (slopes) yang digunakan untuk bercocok tanam sudah tentu rentan terhadap erosi tanah. Dalam upaya mengurangi air yang mengalir kebawah selama berlangsungnya hujan lebat, konstruksi sepanjang garis kontur sangat berguna. Garis kontur adalah garis-garis horisontal imajiner yang melintasi daerah miring.

Konstruksi menghadapi erosi tanah bertujuan mengurangi daerah miring dan kecepatan air permukaan. Sebagai tambahan, konstruksi juga menangkap dan mengumpulkan tanah yang bergulir dari atas. Agar efektif, semua konstruksi menghadapi erosi tanah (dinding batu, pohon-pohon penahan, parit, teras) harus disusun sepanjang garis-garis kontur dari suatu lahan.

Ada banyak publikasi tentang bagaiman merancang dan membangun konstruksi menghadapi erosi tanah (lihat “Bacaan yang disarankan”). Karena itu, disini kami hanya memberi pengantar singkat.

  • Mengidentifikasi Garis-Garis Kontur

Cara sederhana untuk mengidentifikasi garis-garis kontur di lahan adalah dengan menggunakan “A-frame”. A-frame adalah sebuah alat sederhana terdiri dari tiga buah tiang/galah, beberapa tali tambang, sebuah batu dan sejumlah pancang.

Bagaiman membuat dan menggunakan A-frame?

  1. Rangkailah tiga galah sepanjang masing-masing 2,5 meter membentuk sebuah “A”. jika tambang tidak cukup kuat untuk mengikat ujung-ujung galah, gunakanlah paku.
  2. Ikatlah salah satu ujung tali pada puncak A dan pasanglah sebutir batu pada ujung yang lain sedemikian rupa sehingga batu tersebut berada pada jarak yang sama baik dari dasar maupun galah lintang (crossbar) (galah horizontal A).
  3. Letakkan A-frame secara tegak dan tandailah posisi kedua galah kaki. Lalu tandailah titik dimana tali melintasi galah lintang “A”.
  4. Baliklah letak sehingga kedua kaki dalam posisi terbalik mengarah ke atas. Tandai lagi titik dimana tali melintas crossbar. Jika kedua tanda itu tidak berada pada titik yang sama, buatlah titik ketiga dengan sebuah pisau tepat di tengah-tengah kedua tanda terdahulu.
  5. Tuntun pancang pertama pada ujung di atas lahan. Tempatkanlah salah satu kaki A-Frame itu ke atas dan menyentuh pancang tadi. Tempatkanlah kaki yang lain dalam posisi sedemikian rupa sehingga tali melewati poin pada posisi level galah lintang.
  6. Tuntun pancang yang lain ke atas tanah tepat dibawah kaki yang kedua. Pindahkan A-Frame dan lanjutkan dengan cara yang sama melewati lahan.
  7. Kontur selanjutnya ditempatkan 3 hingga 6 meter di bawah garis pertama, tergantung kemiringan daerah. Semakin curam lahan itu, jarak antara garis semakin dekat satu sama lain.

Membuat dan menggunakan A-frame untuk mengidentifikasi garis-garis kontur (sumber: “Field Notes on Organic Farming”, KIOF).

  • Demonstrasi lapangan: Menggunakan A-frame

Mengkonstruksi dan menggunakan sebuah A-frame dapat dengan mudah didemonstrasikan dengan mengikuti petunjuk di atas. Bawalah kelompok ke daerah miring dan cobalah mengidentifikasi garis-garis kontur dengan menggunakan A-frame. Demonstrasi ini dapat juga digabungkan dengan demonstrasi lapangan yang lain.

  • Beberapa konstruksi menghadapi erosi tanah

Sesi berikut ini menampilkan beberapa konstruksi yang bisa dipergunakan dalam menghadapi bahaya erosi tanah. Ambilah salah satu jenis konstruksi yang paling cocok untuk kondisi-kondisi lokal..

Pohon-pohon penahan dan dinding batu

  • Penahan sederhana dapat dibuat dengan memanfaatkan batang-batang pohon dan ranting-ranting. Mereka menampung tanah yang tererosi, dengan demikian mereka juga melindungi tanah agar tidak terbawa air.
  • Pembuatan konstruksi dinding batu membutuhkan lebih banyak waktu meskipun mereka tahan lebih lama dan pemeliharaannya tidak menyita banyak waktu. Konstruksi jenis ini sesuai untuk daerah yang kemiringannya sangat curam atau daerah yang menghasilakn banyak bebatuan.
  • Gundukan dan parit
  • Gundukan tanah atau lumpur mudah dibuat namun cukup rumit pemeliharannya. Sebagai tambahan, rumput, tanaman pagar, nenas atau tanaman tani lain dapat ditanam pada gundukan.
  • Gundukan dapat dikombinasikan dengan parit kontur. Mereka membantu mengembalikan tanah yang tererosi dan menambah kemampuan tanah menyerap air.
  • Teras
  • Pembangunan teras membutuhkan banyak waktu dan tenaga. Kelebihan teras adalah ia sangat efisien dalam mengendalikan erosir dan membangun kesuburan tanah.
  • Ketika menggali teras, tanah bagian atas harus disisihkan dan disebarkan ke permukaan teras yang sudah siap.
  • Sketsa penahan kayu, dinding batu, gundukan lumpur dan teras (sumber: “Introduction to Soil and Water Conservation Practises”, World Neighbours).
    • Demonstrasi lapangan: Konstruksi menghadapi erosi tanah

Sebelum memutuskan konstruksi jenis apa yang akan dipakai dalam upaya memerangi erosi tanah pada lahan yang terancam, beberapa aspek harus dipertimbangkan terlebih dahulu. Diskusikan dengan para peserta hal-hal apa yang perlu dipertimbangkan ketika merancang konstruksi menghadapi erosi tanah. Catatlah saran-saran peserta pada papan dan lengkapilah seperlunya.

Dengan memperhatikan kondisi lokal, poin-poin berikut ini mungkin relevan:

  • Kondisi lokasi (tingkat kemiringan, kedalaman dan stabilitas tanah dll.)
  • Ketersediaan bahan-bahan untuk membuat konstruksi (batang-batang pohon, batu-batu)
  • Ketersediaan tenaga kerja
  • Biaya pembuatan dan pemeliharaan
  • Nilat tambah dari penaman rumput, pagar tanaman atau tanaman tani pada konstruksi

Penahan Hidup

Hanya konstruksi saja tidak akan cukup dalam menghadapi erosi tanah. Karena itu perlu ditambah dengan menanam beberapa tumbuhan. Akar-akar tanaman membantu memperkuat dinding, selokan dan parit, dan karena itu juga mendukung kerja mereka dalam menghadapi pukulan-pukulan hujan lebat.

  • Jika konstruksi ditanami rumput, pagar tanaman, nenas atau tanaman tani lain yang sesuai, petani tidak akan merasakan luas tanah berkurang karena digunakan dalam mmembuat konstruksi, mereka justru mendapat keuntungan ganda.
  • Jika pagar tanaman tumbuh sangat lebat sepanjang garis kontur, dengan sendirinya mereka telah menjadi penahan hidup yang tidak membutuhkan banyak pekerjaan konstruksi. Pada daerah dengan tingkat kemiringan rendah, mereka akan turut membentuk teras dan meratakan tanah dalam waktu beberapa tahun dengan cara menjadi tempat berkumpulnya tanah yang tererosi.
  • Andropogon gayanus: spesies rumput yabg tumbuh baik di Sahel Afrika

Andropogon gayanus adalah sejenis rumput perennial Afrika yang merupakan sebuah contoh spesies rumput yang berguna. Persebarannya meliputi Sudan bagian utara hingga Sahel. Rumput ini memeiliki beberapa kelebihan yang menjadikannya varietas yang sesuai untuk dijadikan penahan hidup dan penutup tanah:

  • Akar yang kuat dan dalam
  • Tahan api, rayap dan kekeringan
  • Tumbuh baik di tanah liat maupun berpasir
  • Tidak membutuhkan perawatan tertentu dan tumbuh cepat
  • Batang-batangnya mencapai ketinggian antara 1 dan 2.5 m
  • Tahan tebasan

Tanaman ini dapat dikembangkan baik dengan menamam langsung pada lokasi atau dengan menyemai hingga menjadi tunas terlebih dahulu, terutama baik dilakukan selama musim hujan untuk menghemat pekerjaan mengairi. Jika ditanam pada kontur, mereka akan mengurangi erosi baik akibat air maupun angin, selain itu juga akan meningkatkan penyerapan air ke dalam tanah. Tidak untuk diabaikan adalah manfaatnya sebagai penghasil pakan ternak dan perannya dalam memperbaiki tanah yang rusak.

Tukar pengalaman: Mengidentifikasi spesies rumput yang bermanfaat

Spesies rumput apakah yang pernah dipergunakan atau diamati oleh
peserta di daerah mereka? Kumpulkan nama-nama lokal atau ilmiah dari varietas-varietas yang ada dan diskusikan kekurangan dan kelebihan masing-masing varietas tersebut.

  • Demonstrasi lapangan: Mencegah erosi tanah

Tentukan sebuah tempat percobaan di daerah miring yang memperlihatkan tanda-tanda erosi tanah atau belum diolah. Para peserta dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok mendapat petak tertentu di tempat percobaan itu, seorang nara sumber bagi metode khusus (misalnya untuk selokan/parit, tumbuhan penutup, tanaman pagar kontur, pengumpulan air dll.) dan sekumpulan bahan-bahan (A-frame, alat-alat, tunas pohon, cangkokan rumput, semaian tanaman pelindung, bahan-bahan mulch dll.). Setiap kelompok harus mendiskusikan cara memperbaiki atau menyempurnakan petaknya dengan berfokus pada metode masing-masing. Mereka pada intinya merancang sebuah sistem bercocok tanam yang tepat berikut perbaikan lahan lalu memulai pelaksanaannya pada beberapa meter persegi lahan. Efek dari cara demikian bisa diuji dengan sekaleng air siram. Jika tempat itu dipelaihara dengan menggunakan cara tersebut selama satu atau dua tahun, maka lahan tersebut dapat dipergunakan sebagai petak demonstrasi bagi pelatihan-pelatihan mendatang.

  • Pemeliharaan

Pemeliharaan konstruksi sangat penting agar usaha-usaha mencegah erosi tanah berhasil. Dinding-dinding dan parit harus segera diperbaiki jika rusak. Parit-parit harus dibersihkan secara teratur terutama sehabis hujan lebat. Tanah yang berkumpul memiliki nilai kesuburan maka harus dikembalikan ke lahan. Pohon.pohon yang baru ditanam, pagar tanaman dan cangkokan rumput harus diairi pada awalnya, dibersihkan dari semak secukupnya dan tanah disekitar mereka harus dilonggarkan secara teratur.

Seusai hujan, warna aliran air di parit/sungai dan anak sungai dari daerah tersebut merupakan petunjuk yang baik untuk mengetahui tingkat erosi tanah yang terjadi di lahan dan dengan demikian juga membuktikan berhasil tidaknya cara-cara yang telah dirancang dan dilaksanakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s