Duit Cari Duit

Posted: November 3, 2011 in Intropeksi

 

Dalam kehidupan sehari-hari sering ditemuin seseorang yang gak pernah berhenti ngandalin otot atau kejeniusannya dlm mengahasilkan duit. Tetapi di balik itu, sering ditemukan bahwa ada sesosok manusia yang berada di balik kehidupannya yang jauh lebih berhasil dan seakan “memanfaatkan” orang itu untuk mendapatkan penghasilan yang lebih.
Sebagai contoh saya memiliki cerita tentang seseorang yang sangat giat bekerja, bahkan dia bisa  mengolah lahan sawah dari beberapa orang untuk menghasilkan padi yang baik dan sangat memuaskan bagi si pemilik lahan. Hampir semua orang yang ada di kecamatan itu mengenal dia sebagai seorang buruh tani yang sangat baik dan tekun dalam bekerja. Dan hampir semua orang ingin sawahnya di olah oleh si buruh tani ini. Saya sering berfikir, jika dalam sekali masa panen dia bisa mendapat minimal 1 juta dari seorang pemilik tanah, maka dalam setahun dia pasti sudah dapat membeli sawah di desa dimana dia berasal. Tetapi, di suatu hari dia terkena penyakit yang cukup parah, dan membuat dia akhirnya beberapa minggu harus tinggal di rumah sakit. Sang Istri pun akhirnya terpaksa harus minjam duit kesana dan kemari hingga akhirnya mereka semakin miskin.
Kesimpulannya, dalam cerita tersebut saya sangat menyesali, entah mengapa si buruh tani tersebut setelah berpuluh tahun bekerja, tidak memiliki ide untuk membeli lahan tani, dan dia bisa mengolah sendiri lahan dia sendiri. Dengan begitu si buruh tani tidak usah bagi hasil dengan si punya tanah. Mungkin jika dia berani untuk berspekulasi seperti itu, dia tidak akan payah disaat dia sakit. Itulah contoh orang yang mengandalkan otot sepanjang hidupnya sejak dia muda hingga tua, tanpa dia berani untuk mencoba mengolah sisi manajemennya dalam meningkatkan usahanya. Jika saja dia berani menabung dan membeli sawah, lalu kemudian mempekerjakan orang lain, maka dia bisa sedikit santai, karena uang yang dimodalinya akan mencari uang lagi  melalui orang lain yang bekerja untuknya.
Saya juga memiliki cerita tentang seseorang yang mengandalkan sisi jeniusnya dalam bekerja. Sebagai contoh adalah seseorang yang bekerja di dunia IT. Dunia yang saat ini sangat digemari oleh masyarakat luas, terutama anak muda. Kita bisa melihat dimana setiap Jurusan yang berbau Teknologi Informasi pasti menjadi idola di setiap perguruan tinggi, baik negeri atau swasta. Padahal saya sendiri bingung, Negara Agraris seperti Indonesia kok bisa-bisanya Fakultas IT lebih digemari daripada Fakultas Pertanian, pantas aja klo Indonesia harus ngimpor beras. Dan kita harus bersyukur masih punya tetangga kayak Thailand atau Vietnam yang masih ingat tentang swasenbada beras, daripada swasembada IT yang jujur kita sendiri aja gak bisa ngerasain tentang hasil dari pendidikan IT anak bangsa yang populer itu.
Kembali ke topik yang di atas ya, saya pernah nemuin seseorang yang bertahun-tahun terus bekerja di dunia IT di perusahaan swasta. Orang itu sudah sekitar 10 tahun lebih bergulat di dunia IT, tapi saya belum pernah melihat “sesuatu” yang sangat hebat hasil dari pendidikannya itu. Hingga akhirnya dia hanya seperti tukang, dan tanpa di sadari atasannya terus menikmati hasil pekerjaannya dan terus menjadi kaya dan kaya.
Dari dua cerita di atas, saya dapat menyimpulkan bahwa dalam meraih kesuksesan itu kita gak boleh ngandalin otak atau otot aja, namun harus berani untuk memainkan suatu manajemen keuangan. Dimana dalam suatu manajemen tersebut kita harus berani memainkan uang yang kita miliki untuk mendapatkan uang yang kita cari. Karena berat untuk kaya kalo kita gak berani investasi kan duit kita ke dalam suatu usaha. Sebagai contoh seseorang yang memiliki ahli di bidang komputer, maka dia selamanya hanya berpenghasilan segitu-segitu aja. Coba kita bandungkan dengan seseorang yang memiiki pengetahuan komputer yang sedikit, namun dia berani berspekulasi dan memainkan penghasilan yang dia miliki, maka kemungkinan dia akan sukses lebih besar.
 Dalam hidup ini kita memang dihadapin dalam 2 pilihan, klo gak sukses ya gagal. Tapi kegagalan ntu gak selamanya buruk, itu bisa menjadi bahan pembelajaran tuk masa depan kita.
Jadi, intinya kita harus berani berspekulasi, dan menurut saya dari pada menjadi orang yang tanggung kaya, lebih baik jadi orang yang gagal atau mungkin sukses. Dan kita juga harus berani meningkatkan pikiran untuk manajemen keuangan kita. Karena setau saya dunia ini masih kekurangan orang yang kreatif atau pengusaha yang berani. Saya pernah baca buku, bahwa dalam suatu negara itu harus punya minimal 2% dari jumlah penduduknya yang menjadi pedagang, baru negara itu bisa dikatakan negara yang maju. Tapi klo masih kurang dari 2%, maka negara itu bukan hanya disebut Negara Bekembang, Namun bisa disebut Negara yang Bergantungan dengan Negara lainnya.
Dan mungkin cara yang paling populer untuk investasi yang paling aman, adalah dengan membeli emas atau tanah. Karena harga dari dua jenis itu pasti naik, gak mungkin ada tanah yang harganya turun, palagi emas. Kita bisa liat ongkos naik haji aja tergantung emas. Klo dibandingin dengan ongkos naik haji sekarang, ongkos naik haji zaman dulu ntu lebih murah, karena waktu itu harga emas masih stabil.
By the way, kita jangan takut untuk mainin duit kita untuk investasi. Karena kerjaan yang paling enak itu klo duit udah kerja untuk kita. Jadi kita tinggal nongkrong di rumah, duit udah datang. Emang awalnya mungkin berat, tapi akhirnya pasti enak kok. Dan sampek sekarang aku masih kurang yakin sama yang namanya pasar saham, karena aneh aja, kenapa orang mau bagi hartanya klo emang dia yakin perusahaannya pasti maju.

Akhir cerita, saya mau ngasih saran klo kita ada modal. Lebih baik klo modal itu kita pakai untuk investasi aja. Ngapain kita nyimpan duit di bank sampek ntu bank tutup. Klo bunganya aja gak seberapa. Biarin kita investasikan duit kita, baik itu dalam bentuk emas atau tanah. Karena harganya lebih aman dan pasti naik. Biarin duit yang kita beli itu mencari temennya juga. Dan klo kita mau berusaha, itu lebih baik lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s