“Masalah-masalah Pembangunan Politik”

Posted: November 3, 2011 in Resensi Buku

Baiklah dalam Pembahasan kali ini saya akan membahas buku tentang Kesatuan dan Pembangunan Politik.

Yang kali ini berjudul “Buku Masalah-Masalah Pembangunan Politik” ( DR. YAHYA MUHAIMIN & DR. COLIN MacANDREWS)
Resensi :

Dalam buku ini secara umum, ideologi mungkin dapat diartikan sebagai suatu pandangan atau system nilai yang menyeluruh dan mendalam yang dipunyai dan dipegang oleh sesuatu masyarakat tentang bagaimana cara yang sebaiknya, yaitu secara moral dianggap benar dan adil, mengatur tingkah laku mereka bersama dalam berbagai segi kehidupan duniawi mereka. Akan tetapi, sebagaimana kita ketahui, dalam realita dilahirkan oleh adanya perbedaan-perbedaan social, ekonomi, agama, dan entah apa lagi. Masing-masing kelompok ini biasanya mempunyai pula pandangan atau system nilai tertentu yang mereka pegang sebagai landasan dalam usaha untuk memajukan kepentingan-kepentingan mereka yang spesifik. Pandangan atau system nilai yang seperti ini mungkin dapat dianggap sebagai sub-ideologi. Di sini ideology tampak sebagai penjelmaan dari suatu hasil consensus bersama dari berbagai kelompok atau golongan kepentingan.

Kalau jalan pemikiran ini kita ikuti, maka salah satu dimensi dari ideology ialah pencerminan realita yang hidup dalam masyarakat di mana ia muncul buat pertama kalinya, paling kurang realita pada saat-saat kelahirannya itu. Dengan lain perkataan, ideology itu merupakan gambaran tentang sejauh mana sesuatu masyarakat berhasil memahami dirinya sendiri. Kalau begitu, daya tahan sesuatu ideology antara lain tergantung pada tinggi atau rendahnya kemampuan intelektuil mereka yang melahirkannya dalam meneliti dan menganalisa masyarakatnya secara obyektif. Kalau kemampuan itu tinggi, maka ideology yang lahir akan mempunyai relevansi yang kuat dengan jiwa dan kehidupan masyarakat, dan sebaliknya.

Dimensi lain dari ideology ialah lukisan tentang kemampuannya memmberikan harapan kepada berbagai kelompok atau golongan yang ada dalam masyarakat untuk mempunyai kehidupan bersama secara lebih baik dan untuk membangun suatu masa depan yang lebih cerah. Dimensi ini dapat disebut sebagai unsure idealism dari ideology. Dalam hal ini, idealism dapat dapat dianggap sebagai motor penggerak yang membangkitkan hasrat anggota-anggota masyarakat untuk hidup bersama dan bersatu, menggairahkan partisipasi mereka dalam usaha-usaha bersama seperti pembangunan. Tinggi rendahnya kualitas idealism merupakan ukuran penting lain untuk melihat daya tahan ideology. Kualitas mana antara lain dapat diukur melalui persepsi masyarakat, yaitu apakah idealism dapat mereka rasakan dan anggap sebagai cita-cita yang wajar dan dapat dicapai, ataukah hanya sebagai utopia atau sekedar lambungan angan-angan yang sangat kabur dan oleh karena itu terasa tak akan mungkin dapat dijangkau.

Persepsi masyarakat tentang idealism yang wajar ataupun yang utopis berkaitan erat dengan kemampuan mereka melihat ada atau tidaknya hubungan timbal balik antara idealisme itu sendiri dengan realita yang ada dan hidup pada masa mereka. Idealisme itu akan menjelmasebagai cita-cita yang sangat wajar, seperti nasionalisme, keadilan sosial, demokrasi dan kemanusiaan, bilamana ia mempunyai relevansi yang jelas dan kuat dengan kenyataan-kenyataan yang ada. Sebaliknya, ia akan tampak sebagai tumpukan omong-kosong belaka bilamana masyarakat menganggapnya tidak mempunyai relevansi sama sekali dengan realita kehidupan yang mereka alami sehari-hari. Kalau sampai begitu, apalagi kalau ia sampai kelihatan bertolak belakang dengan realita, maka idealisme itu akan berhenti sebagai motor penggerak dari ideology. Krisis idealisme semacam ini lambat laun akan melumpuhkan ideology yang didukungnya. Walaupun secara formil ideology itu masih ada, dan bahkan mungkin sekali didengung-dengungkan, dalam aktualitas ia mungkin sudah tidak berdaya lagi. Dengan demikian ia akan berhenti memainkan peranan sebagai gantungan harapan masyarakat banyak. Jika sekiranya memang begitu, apakah ideology itu masih mempunyai arti?Suasana begini mudah mengundang munculnya ideology baru yang walaupun mungkin secara formil tidak diproklamirkan. Tetapi secara langsung atau tidak langsung tampak mulai mendominasi pergaulan dan kehidupan masyarakat.

Erat pula hubungannya dengan kedua dimensi di atas ialah dimensi ketiga dari ideology. Dimensi ini mencerminkan kemampuan sesuatu ideology dalam mempengaruhi dan sekaligus menyesuaikan diri dengan pertumbuhan atau perkembangan masyarakatnya. Mempengaruhi berarti ikut mewarnai proses perkembangan itu, sedangkan menyesuaikan diri berarti bahwa masyarakat berhasil menemukan interpretasi-interpretasi baru terhadap nilai-nilai dasar atau pokok dari ideology itu sesuai dengan realita-realita baru yang muncul dan mereka hadapi. Dengan demikian, nilai-nilai dasar itu, seperti nasionalisme dan keadilan social, akan tampak selalu relevan sebagai idealisme yang wajar. Jadi, agar supaya tetap relevan ideology itu tampaknya perlu mempunyai fleksibilitas agar dapat melahirkan interpretasi-interpretasi baru tentang dirinya sesuai dengan perkembangan jaman. Ada atau tidaknya, tinggi atau rendahnya fleksibilitas ini dapat pula dipakai sebagai ukuran penting ketiga dalam melihat kualitas dan daya tahan sesuatu ideology dalam masyarakat.

Sebagaimana dapat dilihat, adanya fleksibilitas di dalam sesuatu ideology membuka jalan bagi generasi-generasi baru dari masyarakat untuk mengembangkan dan memakai kemampuan intelektuil mereka guna mencari atau meneliti interpretasi-interpretasi baru yang mungkin bias diberikan terhadap nilai-nilai dasar ideology itu, dan oleh karena itu mereka mungkin akan berhasil menemukan relevansi baru daripadanya sebagai idealisme yang wajar di dalam realita baru di mana mereka berada. Melalui interpretasi-interpretasi baru, nilai-nilai dasar yang terkandung di dalam sesuatu ideology akan berhasil membaharui relevansi dirinya itu dalam proses perubahan masyarakat.

Mengapa perlu interpretasi-interpretasi baru?Di sini kita kembali kepada kenyataan bahwa masyarakat mengalami perubahan-perubahan. Mereka beranjak dari satu realita ke realita yang lain dan baru. Proses perubahan atau perpindahan itu mungkin pada mulanya tidak terasa dan terlihat, tetapi pada jarak waktu tertentu ia muncul sebagai suatu kenyataan yang amat kentara dan tak mungkin ditolak lagi. Umpamanya, masyarakat yang semulanya agraris kemudian mengalami proses industrialisasi, maka pada tingkat tertentu dari proses itu mereka mungkin akan menyadari dan melihat terjadinya perubahan yang menyolok dalam diri mereka. Sifat-sifat agraris dalam masyarakat itu mungkin masih ada dan kuat, tetapi pada waktu yang sama mereka juga tidak dapat menolak kelahiran dan pertumbuhan sector baru, industry, di bagian lain dari dirinya itu. Sektor baru ini dengan sendirinya melahirkan kelompok-kelompok kepentingan baru yang mungkin pula mempunyai sub-ideologi tertentu. Jaringan struktur dan stratifikasi masyarakat menjadi lebih berkembang dan ruwet. Oleh karena itu, memerlukan penelitian dan penganalisaan baru agar supaya bias dipahami secara mendalam dan mantap.

Sebagaimana telah diungkapkan, nilai-nilai dasar yang terkandung dalam sesuatu ideology sangat diwarnai oleh hasil pemikiran mereka yang melahirkannya dahulu itu tentang realita masyarakatnya, di samping visi mereka tentang masa depan. Pengertian dan analisa mereka tentang nilai dasar keadilan social, umpamanya, tentunya amat erat berkaitan dengan suasana dan kondisi masyarakat pada masa lampau itu. Kini, suasana dan kondisi masyarakat mungkin sekali sudah amat jauh berbeda atau berlainan. Oleh sebab itu, pengertian dan analisa tentang keadilan social tidak sesuai lagi. Dan bahkan mungkin tidak bersentuhan sama sekali, dengan realita baru. Hal ini akan mengakibatkan bertambah kaburnya pengertian masyarakat tentang nilai dasar itu yang lambat laun menjuruskannya menjadi tidak bermakna sama sekali. Kalau maknanya sudah hilang, masyarakat tidak akan memperdulikannya. Akibatnya, masyarakat akan bersikap apatis terhadapnya, bahkan mungkin ada yang memandang dan memperlakukannya secara sinis.

Jelaslah kiranya, kalau keadilan sosial hendak dipertahankan sebagai salah satu nilai dasar dari ideologi ia menuntut pengertian dan analisa baru yang mempunyai relevansi dengan suasana dan kondisi masyarakat yang sudah jauh berbeda itu. Itu antara lain bisa dilakukan dengan membuka jalan bagi generasi baru dan mendatang untuk melahirkan ide-ide atau interpretasi-interpretasi baru, melalui kemampuan intelektualitas yang mereka punyai, tentang nilai dasar itu berkaitan langsung dengan pengertian dan analisa mereka sendiri tentang reliata kehidupan yang mereka hadapi sehari-hari. Ini jelas menuntut kepada ideologi untuk mempunyai fleksibilitas, yaitu membuka dirinya untuk diinterpretasikan kembali dari waktu ke waktu sesuai dengan proses perkembangan zaman dan kemajuan masyarakat. Interpretasi-interpretasi baru itu bisa berbentuk elaborasi atau perluasan pengertian, tetapi mungkin pula jauh berbeda. Ideologi yang mempunyai fleksibilitas semacam ini diperkirakan akan mampu menjaga dirinya untuk tetap mempunyai relevansi dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s