Pengantar Ilmu Politik

Posted: Oktober 28, 2011 in Politik

Makna pengantar berarti orang yang mengantar dari satu tempat ketempat lain. Dengan demikian, secara harfiah mengandung perpindahan (transfer). Orang yang mengantar adalah orang yang lebih paham atau paling tidak menguasai daerah yang akan dikunjungi. Pemahaman yang luas dari pengantar dibutuhkan karena ia dituntut untuk menggiring atau orang yang dibawahnya agar sampai pada tempat yang dituju.

Tidak dapat dibayangkan kalau orang yang mengantar kita ke tempat tertentu, sementara pengantarnya sendiri masih bingung dimana tempat yang akan dituju. Sebab, kalau pengantar saja bingung, bagaiman dengan orang yang diantar?? Berkaitan dengan itu, di hubungkan dengan mata kuliah PENGANTAR ILMU POLITIK, maka orang yang paling tepat memberikan mata kuliah pengantar adalah dosen yang berwawasan Doktor dalam bidang ilmu yang diajarkan.

Mengapa dibutuhkan orang yang berwawasan Doktor?? Jawabannya karena mata kuliah pengantar adalah mata kuliah dasar yang memberikan pemahaman dasar dan fundamentalbagi Mahasiswa. Kalau dasar yang diterima bagus, maka akan memudahkan mahasiswa untuk memahami lebih jauh ILMUN POLITIK dan hubungannya dengan ilmu lain. Sebaliknya, kalau dasar yang diterima kurang bagus, maka pengembangan dan pemahaman konsep ilmu politik dapat keliru.

Sebelum kita membahas lebih jauh apa itu ILMU POLITIK, terlebih dahulu saya ajukan pertanyaan, Mengapa hampir semua orang tahu dan merasa tahu tentang Politik, tetapi sangat jarang orang yang mempunyai prediksi politik dengan tepat?? Jawaban darin pertanyaan itu adalah karena setiap orang, suka atau tidak suka akan terlibat POLITIK. Politik semakin dihindari, ia akan semakin menjerat. Hal itu dapat dianalogikan dengan Cinta, bahwa CINTA itu semakin dijauhi ia akan semakin mendesak kita. Sebaliknya semakin diburu ia juga akan semakin menjauhi kita. Fenomena menarik Dikaji karena baik Cinta maupun Politik, selalu orang tertarik membicarakannya. Orang yang tidak tertarik membicarakan kedua persoalan ini berarti sosialisasi mereka ada yang kurang Bagus.

Orang yang sudah pernah disakiti oleh laki-laki akan selalu menganggap laki-laki itu jahat, penipu, pembohong, dan berbagai tudingan yang kurang bagus. Sebaliknya orang yang sedang dibahagiakan oleh laki-laki akan menganggap laki-laki itu adalah penyayang, perkasa, kuat, gagah, sopan, dan sejuta kebaikan yang sulit digambarkan.

Uraian diatas menunjukkan bahwa betapa sosialisasi seseorang sangat berpengaruh terhadap pendapat, sikapnya dalam menilai sesuatu. Oleh karena itu, kita dituntut untuk selalu menyelami makna dari proses kehidupan ini. Setiap tahap kehidupan ini terasa mempunyai makna, dan harus dimaknai. Sebab kalau tidak, maka waktu itu akan berlalu begitu saja, yang berarti kita Rugi. Kata Prof. Dr. Anwar Arifin, biarkanlah roda kehidupan ini bergulir sambil kita menikmatinya. Artinya setiap tahap kehidupan ini harus dinikmati dan kita berbahagia menjalani seluruh alur kehidupan ini. Jangan sampai anda menderita dalam proses hidup yang anda jalani. Sebab kalau demikian, anda telah salah dalam memberikan makna dalam kehidupan.

Oleh karena itu, antara Politik dan Cinta terdapat persamaan-persamaan didalamnya. Minimal ada tiga persamaan antara politik dan cinta, yakni:

  1. Berpolitik dan bercinta kalau dilihat dari luar, dinilai jorok, haram, kotor, dosa, penipu dan berbagai tudingan jelek lainnya. Tetapi ketika klita masuk didalamnya ternyata indah, enak menyenangkan dan lebih penting lagi kita tidak mau meninggalkannya. Rasanya dunia ini hanya milik kita berdua (yang lain ngontrak) kata orang yang lagi kasmaran. Demikian juga kalau kita berpolitik, kalau kita sudah masuk didalamnya, ternyata menjadi anggota DPR itu enak, ada rumah jabatan, gaji tinggi, kebal hukum dan berbagai kenikmatan-kenikmatan lainnya
  2. Semakin jauh kita melangkah, maka kita semakin takut jatuh. Dalam Politik senakin tinggi karier seseorang, semakin ia takut kehilangan jabatan,. Demikian juga dengan Cinta, semakin jauh kita melangkah dalam cinta, semakin takut kita ditinggalkan.
  3. Tipu-menipu, khianat-menghianati adalah hal yang biasa. Dalam berpolitik, kata manipulasi harus dianggap sebagai suatu kata netral, artinya setiap orang yang berpolitik mempunyai kesempatan yang sama untuk memanipulasi keadaan yang dapat menguntungkan dirinya dan partainya. Kalau berjanji belum tentu disepakati, tergantung apakah janji itu menguntungkan dirinya atau tidak. Karena itu, Kata orang Bijak tidak ada yang abadi dalm POLITIK, yang abadi adalah kepentingan pribadi

Demikian juga dalam bercinta, orang yang susah membedakan yang mana cinta sejati dan cinta palsu. Sebab ucapan dan tindakan sangat sulit dibedakan antara yang sungguh-sungguh dengan yang main-main, sebab hampir sama. Serupa tapi tak sama. Bahkan orang yang sungguh-sungguh dianggap kurang serius, dan yang kurang serius dianggap sungguh-sungguh, sehingga kadang-kadang kita tertipu bukan saja oleh orang yang kita Cintai, tetapi tidak jarang kita tertipu oleh mata kita sendiri

Oleh karena itu, bercinta dan berpolitik memiliki persamaan unik. Kalau janji dalam Politik dipenuhi akan berakhir di kursi kekuasaan. Demikian juga dalam bercintam, kalau janji di penuhi akan berakhir di kursi Pelaminan.

Berangkat dari fenomena diatas, dapat menimbulkan pertanyaan. Apakah politik Ilmu atau Seni?? Jawaban dari pertanyaan ini adalah Politik merupakan senia dan juga ilmu. Sebab keduanya memungkinkan hal itu dilakukan… Penjelasannya akan di tuliskan pada Postingan berikutna.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s