Ambiguitas vs. Kreatifitas

Posted: Oktober 27, 2011 in Antropologi

(Surat Untuk Generasiku)
Banyak hal baru disekitar kita dan kebanyakan dari kita kadang kurang peka dengan berbagai hal baru tersebut. Kebanyakan dari kita hanya tahu hal itu telah terjadi begitu saja atau benda ini begini cara kerjanya. Jarang kita mencari tahu kenapa bisa demikian. Pengkonsumsian besar-besaran terhadap suatu produk tanpa berpikir apa yang melatar belakangi semua fenomena tersebut. Jarang kita berfikir kenapa gelas itu bentuknya seperti itu, dari mana sang penciptanya mendapatkan ide sehingga ia menciptakannya berbentuk seperti itu. Seorang perancang busana dan aksesoris dari Francis dalam sebuah wawancaranya yang ditayangkan oleh salah satu TV nasional mengatakan : “aku menciptakan sebuah rancangan, pada dasarnya berangkat dari dalam diriku sendiri, aku merancang sesuatu yang nyaman bagi diriku, dan aku yakin kenyamanan yang aku rasakan, setidaknya akan dapat dirasakan oleh mereka yang memakai hasil rancanganku”. Sedangkan kita disini berfikir bagaimana cara mendapatkan sesuatu itu besok, atau suatu saat ingin mendapatkan benda itu untuk dipajang di rumah.
Sebuah fenomena yang dapat kita lihat pada saat sekarang adalah masuknya berbagai teknologi ke negara kita. Indonesia, sama halnya dengan negara-negara dunia ketiga lainnya, banyak mengadopsi dan menerima berbagai teknologi dari negara-negara kapitalis. Salah satu jalan yang dapat kita lakukan adalah dengan menyeleksi sedapat mungkin, atau lebih baiknya mengambil beberapa bentuk dan menggabungkannya dengan apa yang kita miliki, dengan tujuan memperkaya diri.

Untuk dapat merealisasikan semua itu, tentunya dibutuhkan mereka-mereka yang berfikir kreatif dan mau bereksplorasi. Memang kita akui untuk melakukan hal tersebut tentunya tidak semudah itu. Banyak hal yang harus dilakukan dan banyak hal yang harus dikorbankan. Kita juga harus bisa mencari dan menggali lebih dalam berbagai hal baru yang masuk ke lingkungan kita. Mengambil berbagai bentuk yang baik dari yang masuk tersebut dan kemudian menggabungkannya dengan apa yang kita miliki. atau menggabungkan berbagai hal yang masuk ke lingkungan kita menjadi sesuatu yang baru.
Sebuah contoh dapat kita lihat pada musik “Dua Warna” yang pernah ditayangkan beberapa kali di sebuah stasiun TV nasional sekitar tahun 90an. Terlihat disana mereka yang terlibat terlihat berhasil menggabungkan beberapa musik yang berasal dari berbagai kebudayaan menjadi satu musik baru yang tidak pernah dimiliki oleh bangsa manapun. Keharmonisan musik dari negara Barat bergabung dengan keunikan bunyi alat-alat musik tradisional bangsa Indonesia.
Lama setelah itu baru banyak bermunculan berbagai perpaduan dalam dunia seni. Tidak hanya dalam dunia musik, seni taripun mulai mengalami berbagai perpaduan. Beberapa waktu lalu dapat kita temukan berbagai bentuk tarian yang menggabungkan tarian dari dunia Barat dengan tarian tradisional.
Di Minangkabau sebenarnya pengkayaan diri dengan cara seperti ini juga pernah dilakukan oleh ninik-ninik kita. Sebuah contoh dapat kita lihat pada musik rabab yang katanya adalah budaya Minangkabau. Sebenarnya itu hanyalah penggabungan dua budaya, dimana gambus dari Timur Tengah kemudian dipadukan dengan biola dari Spanyol. Hasil penggabungan tersebut kemudian dijadikan milik masyarakat Minangkabau. Disini kita melihat bahwa pada dasarnya tindakan tersebut adalah semacam plagiat hasil karya. Namun yang jelas di dalamnya kita dapat melihat sebuah kreatifitas. Meniru tidak persis sama dan mampu mengembangkannya lebih jauh.
Pada saat sekarang unsur kreatifitas ini mulai berkurang pada generasi muda. Kreatifitas lebih dipandang sebagai apabila kita mampu memiliki dan menguasai teknologi modern. Fenomena yang jelas terasa saat sekarang adalah trend berpakaian atau dunia musik. Berbagai jenis pakaian dan aksesorisnya menjadi impian generasi muda. Mereka akan merasa bangga apabila dapat memakai pakaian yang bermerek dengan aksesoris yang sedang trend saat sekarang. Tidak peduli berapa harganya, yang penting merek dan prestice yang melekat pada barang-barang tersebut.
Begitu juga dengan musik, generasi muda saat sekarang lebih merasa bangga apabila ia dapat bermain drum atau gitar dengan dasyat, atau dapat melantunkan lagu-lagu berbahasa Inggris. Seperti yang dituliskan oleh Parsudi dalam sebuah artikelnya ; “sebenarnya yang mereka konsumsi itu bukan sesuatu-sesuatu tersebut, tapi nilai prestice atau simbolik yang ada dibalik dan melekat pada sesuatu tersebut”. Banyak generasi muda saat sekarang merasa gengsi untuk belajar memainkan talempong atau bansi, ketinggalan jaman kata mereka. Ketika disodorkan pidato adat atau alua pasambahan, belum membacanya, mendengar saja mereka sudah menganggap itu sesuatu yang lucu. Sebagai generasi muda penulis tidak memungkiri kalau fenomena tersebut juga mempengaruhi penulis sendiri.
Intinya disini penulis ingin mengatakan, kenapa generasi sekarang tidak pernah berfikir tentang sesuatu yang lain dari apa yang ada di sekitar mereka. Apakah jerat-jerat budaya yang dibentuk oleh orang-orang yang lebih dahulu hidup begitu kuat mengikat sehingga generasi muda saat sekarang terkungkung di dalamnya, tak dapat bergerak dan akhirnya ikut begitu saja apa yang dikatakan oleh lingkungan mereka. Namun bukan berarti apa yang telah dijalani saat sekarang tidak baik, selama itu merupakan keinginan diri. Sayangnya kebanyakan generasi muda saat sekarang menjalani keseharian mereka sebagai bentuk dari pelarian diri, mereka tidak terlalu yakin dengan jalan yang mereka ambil. Ketidak puasan atas apa yang mereka kerjakan menjadi alasan mereka berhenti dan mencari sesuatu yang baru yang kadang-kadang itupun masih harus “meraba-raba” kembali. Hal-hal seperti ini apabila kita biarkan begitu saja, tentunya akan memberikan dampak tertentu bagi bangsa kita. Indonesia akan terus hidup dalam “keraguan yang terbiasakan”. Mungkin perobahan yang diakibatkannya tidak kita rasakan saat ini. Tapi suatu saat nanti ketika setelah beberapa generasi berjalan, bagaikan bom waktu ia datang menghantam tepat di tempat dimana kita duduk menikmati masa tua kita. Lalu siapa akan dipersalahkan jika semua itu terjadi.
Perilaku konsumtif, ketidak konsistenan pada sebuah pekerjaan, kreatifitas yang seragam, kurang menggali potensi diri dan lingkungan, semua yang coba penulis refleksikan di atas pada dasarnya tengah berlangsung di sekitar kita saat sekarang. Sayangnya gejala yang menurut penulis termasuk ke dalam kategori budaya ambiguitas ini terus merambat masuk ke dalam berbagai sendi kehidupan masyarakat kita. Para orang tua pun mulai terkena imbas atas pola pikir “pembodohan” diri ini. Hampir sebagian besar orang tua berfikir dan menginginkan anak mereka dapat bekerja di sebuah instansi pemerintahan. Ada sebuah gambaran kesejahteraan di masa yang akan datang, gaji yang jelas setiap bulannya, saat masa pensiun menjelang tetap mendapatkan tunjangan pensiun dan lain sebagainya. Memang pada dasarnya setiap orang tua mengharapkan anak-anak mereka tidak mengalami kesusahan seperti apa yang mereka alami. Namun secara tidak langsung kondisi telah mematikan sebagian kreatifitas dan imajinasi anak-anak mereka. Terasa pada saat ini akibat dari pola pikir yang demikian telah melahirkan reaksi yang sangat berlebihan di masyaralat kita, saat pemerintah membuka penerimaan calon pegawai negeri sipil. Setiap individu memalingkan perhatian mereka dari pekerjaan mereka yang lama dan “bermimpi” suatu saat nanti mereka memakai seragam dengan lambang institusi pemerintahan tertentu.
Tidakkah pernah kita berfikir, intensitas dan kesetiaan pada sebuah pekerjaan yang merupakan bagian dari diri kita akan membawa kita pada suatu masa yang lebih ternikmati, di mana kita duduk dengan orang-orang yang kita cintai dan bercerita tentang keberhasilan masa lalu, dengan bangga menepuk dada dan berkata “akulah manusia yang hidup dengan pikiran dan hatiku dan berdiri tegar di atas kedua belah kakiku”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s